Wali Murid Keluhkan Kualitas Menu Makan Bergizi Gratis di Surabaya, Desak Evaluasi Menyeluruh


Surabaya – Media kasuspenanews

Sejumlah wali murid di Kota Surabaya menyampaikan keluhan atas kualitas menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola oleh salah satu yayasan setempat. Program yang dirancang untuk membantu pemenuhan kebutuhan nutrisi siswa sekolah tersebut dinilai belum sepenuhnya memenuhi standar gizi yang diharapkan.

Keluhan ini mencuat setelah anak-anak melaporkan menu yang diterima selama bulan Ramadan. Berdasarkan penuturan para siswa, makanan yang dibagikan hanya berupa ketela godok, kacang godok, telur puyuh, dan buah salak. Menu tersebut dianggap minim variasi dan kurang mengandung protein hewani serta sayuran segar.

Salah seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya menyampaikan bahwa pihaknya bukan tidak bersyukur atas adanya program tersebut. Namun, ia berharap implementasinya benar-benar mencerminkan konsep “bergizi” sebagaimana yang digaungkan. Menurutnya, anak-anak membutuhkan asupan yang mendukung pertumbuhan dan konsentrasi belajar.

Para orang tua juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral dalam setiap porsi makanan. Mereka khawatir apabila menu yang disajikan secara terus-menerus tidak memenuhi kebutuhan gizi harian, hal itu dapat berdampak pada daya tahan tubuh dan perkembangan anak.

Informasi yang beredar di masyarakat menyebutkan adanya alokasi anggaran yang cukup besar untuk setiap Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG), dengan nominal tertentu per porsi. Hal ini membuat para wali murid mempertanyakan kesesuaian antara anggaran yang dialokasikan dan kualitas makanan yang diterima siswa.

Jika merujuk pada pedoman resmi Badan Gizi Nasional, program MBG seharusnya memenuhi prinsip gizi seimbang dengan komposisi sumber karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayuran, buah-buahan, serta lemak sehat. Selain itu, penyusunan menu juga dianjurkan mengikuti siklus tertentu guna menjaga variasi asupan.

Standar tersebut juga mencakup aspek higienitas, keamanan pangan, serta penggunaan bahan pangan lokal yang berkualitas. Pemerintah menetapkan pedoman berdasarkan kelompok usia agar kebutuhan energi harian siswa dapat terpenuhi secara proporsional, yakni sekitar 20–35 persen dari total kebutuhan harian.

Masyarakat berharap pihak yayasan pengelola dan instansi terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program di lapangan. Transparansi dalam pengelolaan anggaran dan mekanisme pengawasan menjadi tuntutan utama demi menjaga kepercayaan publik.

Para wali murid menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bertujuan untuk perbaikan bersama, bukan untuk menyudutkan pihak tertentu. Mereka berharap program yang memiliki tujuan mulia ini dapat berjalan sesuai standar dan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi anak-anak.

Dengan adanya perhatian dan respons cepat dari pihak terkait, masyarakat optimistis program Makan Bergizi Gratis dapat menjadi solusi konkret dalam meningkatkan kualitas gizi siswa. Kolaborasi yang terbuka dan akuntabel diharapkan mampu memastikan setiap anak memperoleh haknya atas asupan nutrisi yang layak dan sehat.

Penulis Redaksi :

Lebih baru Lebih lama